Pohon Beringin adalah tumbuhan
yang memiliki makna khusus bagi orang Jawa.
Pada masa lalu semua alun-alun yang ada di kota
pusat pemerintahan memiliki tanaman ini.
Di alun-alun Mojokerto pun demikian pula,
tertanam duo pohon beringin besar pada tengah tanah
lapang. Orang Mojokerto menamakannya wringin kurung.
Wringin atau Beringin memiliki nama latin Ficus Benjamina.
Pohon ini mudah tumbuh dimana saja karena memiliki akar
yang cepat menjalar. Selain itu ada pula akar yang
menjulur dari batangnya yang berfungsi menyerap udara.
Daunnya lebat yang memudahkan pohon itu ber-metamorposha.
Karenan kekuatannya menyerap udara itu orang tua
kita berpesan agar tidak tidur malam di bawah pohon beringin.
Nama wringin berasal dari kata pingin atau ingin.
Nama yang disematkan karena pada masa Hindu
ada keyakinan orang berdoa dibawah
wringin akan mudah terkabul keinginannya.
Karena itu wringin juga dikenal sebagai tree wishes
(pohon keinginan/harapan).
Wringin disamakan dengan Kalpataru atau pohon
kehidupan yang ada di Nirwana.
Pada masa Islam oleh para wali,
Wringin kemudian dipakai sebagai simbol kehudupan
berbentuk gunungan dalam pewayangan.
Keberadaan beringin di alun-alun atau lahan luas
di depan kraton sudah ada sejak jaman Majaoahit.
Pada kitab Babad Songenep disebutkan bahwa
rombongan pangeran dari madura menunggu di bawah beringin
untuk menunggu panggilan menghadap raja.
Pada jaman Mataram dikenal pula tradisi "pepe",
menjemur diri di alun-alun dekat beringin. Pepe bisa
jadi semacam demo agar pelaku
diperhatikan oleh raja dan dipanggil menghadap.
Kisah yang terkenal tentang wringin
adalah berjalan melintas wringin kembar
dengan mata tertutup di alun-alun Jogja.
Diyakini hanya orang yang memiliki hati bersih yang bisa
melintas jalan antara kedua pohon wringin tersebut.
Wringin yang ada di alun-alun Mojokerto dinamakan
wringin kurung karena dikurung pagar yang melingkarinya.
Terletak pada tengah lapangan di sisi kanan dan
kiri jalan yang membujur dari utara ke selatan,
lurus dengan jalan Majapahit. Keberadaan wringin kurung
ada diantara Masjid Al Fatah dan Pendopo Kabupaten Mojokerto.
Dengan posisi semacam itu seolah wringin kurung menjadi gapura
bagi orang yang masuk ke Mojokerto. Pada masa lalu jalan
utama transportasi dari arah Surabaya melalui jembatan Terusan.
Dapat dipastikan bila keberadaan Wringin Kurung
beriringan dengan adanya kota Mojokerto.
Pada masa pemerintahan bupati Arya Tjandronegoro terjadi
pemindahan pusat pemerintahan dari Japan ke Mojokerto tahun 1838.
Lazimnya pemindahan pusat pemerintahan selalu diikuti
dengan pembuatan alun-alun dan penanaman biji beringin.
Penanaman wringin itu tetap ada hingga awal abad 20.
Tahun 1910, setelah dilantik menjadi Bupati Jombang,
Sosroadiningrat segera membuat pendopo
kabupaten dan menanam dua biji beringin.
Fungsi wringin sebagai tree wishes mungkin sudah memudar,
demikian pula dengan aksi pepe.
Tetapi rindangnya wringin kemudian digunakan sebagai
tempat berteduh dan bertemunya orang.
Interaksi sosial yang tidak jarang menjurus pada transaksi.
Maka wringin kurung menjelma menjadi pasar dadakan.
Adanya pasar insidentil itu pernah disebutkan
oleh pelancong eropa yang sempat datang ke Mojokerto.
Begitulah, wringin kurung menjadi saksi
segala peristiwa dari masa ke masa.
Tentu yang paling dinamis adalah saat
terjadinya revolusi kemerdekaan.
Banyak pertemua atau rapat terbuka dilakukan di alun-alun itu.
Tokoh terkenal seperti Bung Karno dan Bung Tomo
pernah berpidato disana.
Tidak ketinggalan WJK Bay, komandan divisi A Pasukan Belanda pun
pernah menggelar defile tidak jauh dari wringin kurung.
Akhir tahun 1949 didirikan tugu proklamasi
menemani dua wringin kurung.
Tugu dengan teks proklamasi terpahat di marmer itu
biasa dinamakan "tugu pengilon".
Wringin kurung sempat menyaksikan upacara penyerahan
kedaulatan dan keamanan dari pasukan Belanda pada TNI.
Oveste Keuning mengoper tanggung jawab keamanan pada
Mayor Isa Idris selaku komandan KDM Mojokerto.
Peristiwa itu menjadi sejarah karena Mojokerto yang
pertama di serahkan pada tanggal 5 desember 1949.
Penyerahan kekuasaan yang mendahului jadwal tanggal 27 Desember 1949.
Entah kapan hilangnya wringin kurung di alun-alun Mojokerto tersebut.
Hingga akhir dekade 1960-an kedua pohon itu masih ada di tempatnya.
Ada yang mengatakan bahwa wringin kurung itu mati setelah tersambar petir.
Pada lokasi bekas wringin kurung itu kemudian
didirikan tugu seperti yang kita saksikan saat ini.
Serpihan Catatan Ayu Hanafiq
Sidowangun, 2 Maret 2017
yang memiliki makna khusus bagi orang Jawa.
Pada masa lalu semua alun-alun yang ada di kota
pusat pemerintahan memiliki tanaman ini.
Di alun-alun Mojokerto pun demikian pula,
tertanam duo pohon beringin besar pada tengah tanah
lapang. Orang Mojokerto menamakannya wringin kurung.
Wringin atau Beringin memiliki nama latin Ficus Benjamina.
Pohon ini mudah tumbuh dimana saja karena memiliki akar
yang cepat menjalar. Selain itu ada pula akar yang
menjulur dari batangnya yang berfungsi menyerap udara.
Daunnya lebat yang memudahkan pohon itu ber-metamorposha.
Karenan kekuatannya menyerap udara itu orang tua
kita berpesan agar tidak tidur malam di bawah pohon beringin.
Nama wringin berasal dari kata pingin atau ingin.
Nama yang disematkan karena pada masa Hindu
ada keyakinan orang berdoa dibawah
wringin akan mudah terkabul keinginannya.
Karena itu wringin juga dikenal sebagai tree wishes
(pohon keinginan/harapan).
Wringin disamakan dengan Kalpataru atau pohon
kehidupan yang ada di Nirwana.
Pada masa Islam oleh para wali,
Wringin kemudian dipakai sebagai simbol kehudupan
berbentuk gunungan dalam pewayangan.
Keberadaan beringin di alun-alun atau lahan luas
di depan kraton sudah ada sejak jaman Majaoahit.
Pada kitab Babad Songenep disebutkan bahwa
rombongan pangeran dari madura menunggu di bawah beringin
untuk menunggu panggilan menghadap raja.
Pada jaman Mataram dikenal pula tradisi "pepe",
menjemur diri di alun-alun dekat beringin. Pepe bisa
jadi semacam demo agar pelaku
diperhatikan oleh raja dan dipanggil menghadap.
Kisah yang terkenal tentang wringin
adalah berjalan melintas wringin kembar
dengan mata tertutup di alun-alun Jogja.
Diyakini hanya orang yang memiliki hati bersih yang bisa
melintas jalan antara kedua pohon wringin tersebut.
Wringin yang ada di alun-alun Mojokerto dinamakan
wringin kurung karena dikurung pagar yang melingkarinya.
Terletak pada tengah lapangan di sisi kanan dan
kiri jalan yang membujur dari utara ke selatan,
lurus dengan jalan Majapahit. Keberadaan wringin kurung
ada diantara Masjid Al Fatah dan Pendopo Kabupaten Mojokerto.
Dengan posisi semacam itu seolah wringin kurung menjadi gapura
bagi orang yang masuk ke Mojokerto. Pada masa lalu jalan
utama transportasi dari arah Surabaya melalui jembatan Terusan.
Dapat dipastikan bila keberadaan Wringin Kurung
beriringan dengan adanya kota Mojokerto.
Pada masa pemerintahan bupati Arya Tjandronegoro terjadi
pemindahan pusat pemerintahan dari Japan ke Mojokerto tahun 1838.
Lazimnya pemindahan pusat pemerintahan selalu diikuti
dengan pembuatan alun-alun dan penanaman biji beringin.
Penanaman wringin itu tetap ada hingga awal abad 20.
Tahun 1910, setelah dilantik menjadi Bupati Jombang,
Sosroadiningrat segera membuat pendopo
kabupaten dan menanam dua biji beringin.
Fungsi wringin sebagai tree wishes mungkin sudah memudar,
demikian pula dengan aksi pepe.
Tetapi rindangnya wringin kemudian digunakan sebagai
tempat berteduh dan bertemunya orang.
Interaksi sosial yang tidak jarang menjurus pada transaksi.
Maka wringin kurung menjelma menjadi pasar dadakan.
Adanya pasar insidentil itu pernah disebutkan
oleh pelancong eropa yang sempat datang ke Mojokerto.
Begitulah, wringin kurung menjadi saksi
segala peristiwa dari masa ke masa.
Tentu yang paling dinamis adalah saat
terjadinya revolusi kemerdekaan.
Banyak pertemua atau rapat terbuka dilakukan di alun-alun itu.
Tokoh terkenal seperti Bung Karno dan Bung Tomo
pernah berpidato disana.
Tidak ketinggalan WJK Bay, komandan divisi A Pasukan Belanda pun
pernah menggelar defile tidak jauh dari wringin kurung.
Akhir tahun 1949 didirikan tugu proklamasi
menemani dua wringin kurung.
Tugu dengan teks proklamasi terpahat di marmer itu
biasa dinamakan "tugu pengilon".
Wringin kurung sempat menyaksikan upacara penyerahan
kedaulatan dan keamanan dari pasukan Belanda pada TNI.
Oveste Keuning mengoper tanggung jawab keamanan pada
Mayor Isa Idris selaku komandan KDM Mojokerto.
Peristiwa itu menjadi sejarah karena Mojokerto yang
pertama di serahkan pada tanggal 5 desember 1949.
Penyerahan kekuasaan yang mendahului jadwal tanggal 27 Desember 1949.
Entah kapan hilangnya wringin kurung di alun-alun Mojokerto tersebut.
Hingga akhir dekade 1960-an kedua pohon itu masih ada di tempatnya.
Ada yang mengatakan bahwa wringin kurung itu mati setelah tersambar petir.
Pada lokasi bekas wringin kurung itu kemudian
didirikan tugu seperti yang kita saksikan saat ini.
Serpihan Catatan Ayu Hanafiq
Sidowangun, 2 Maret 2017


0 komentar: